Banjir setinggi sekitar satu meter dilaporkan merendam enam desa di Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku.
Peristiwa ini terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir sehingga debit air sungai meningkat dan meluap ke kawasan permukiman warga.
Air dengan cepat menggenangi rumah-rumah penduduk, lahan pertanian, serta fasilitas umum, menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh.
Banjir tersebut menjadi salah satu kejadian alam yang kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi di wilayah kepulauan Maluku.
Temukan informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Maluku di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Maluku Indonesia.
Penyebab Banjir di Wilayah Buru Selatan
Banjir yang merendam enam desa di Buru Selatan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan berlangsung cukup lama. Sistem drainase yang terbatas serta kondisi sungai yang mengalami pendangkalan turut memperparah situasi.
Air hujan yang seharusnya mengalir ke sungai dan laut tidak dapat tertampung dengan baik, sehingga meluap ke permukiman.
Faktor geografis Buru Selatan yang memiliki banyak daerah rendah di sekitar aliran sungai juga membuat wilayah ini rawan banjir saat musim hujan tiba.
Desa-Desa yang Terendam
Enam desa di Kecamatan Ambalau yang terdampak banjir ini adalah Desa Lumoy, Elara, Siwar, Selasi, Ulima, dan Kampung Baru.
Hanya satu desa di kecamatan itu yang relatif belum terendam banjir, sementara sisanya hampir seluruhnya masuk dalam zona genangan air akibat hujan yang tak henti-hentinya.
Kondisi ini memperlihatkan betapa luasnya cakupan banjir, bukan hanya di satu titik tetapi merata di sejumlah permukiman.
Kondisi ini menyulitkan warga untuk beraktivitas normal, termasuk bekerja dan bersekolah. Beberapa rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat terendam air dalam waktu cukup lama.
Selain itu, perabotan rumah tangga dan hasil panen warga juga banyak yang rusak, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi.
Baca Juga:
Upaya Evakuasi dan Tanggap Darurat
Sebagai respons atas bencana ini, pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan relawan mulai mengevakuasi warga yang terdampak.
Setidaknya sekitar 100 warga sudah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman seperti kantor Polsek Ambalau dan balai desa, terutama warga dari Desa Siwar dan Selasi yang merupakan wilayah terdampak langsung di mana genangan air cukup tinggi. Evakuasi dilakukan terutama terhadap kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak.
Evakuasi berlangsung di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan jaringan komunikasi yang masih bermasalah di beberapa wilayah.
Hal ini memengaruhi proses pendataan warga yang terdampak serta koordinasi tim tanggap darurat di lapangan.
Selain itu, sejumlah fasilitas seperti kantor camat Ambalau juga dipersiapkan sebagai titik penampungan sementara bagi warga yang mengungsi dari rumah mereka masing-masing.