MIRIS! Demi Ilmu, Siswa SDN 318 Malteng Terpaksa Belajar di Reruntuhan Bekas Kebakaran!​

Siswa SDN 318 Malteng Terpaksa Belajar di Reruntuhan Bekas Kebakaran
Bagikan

Dua tahun pascakebakaran, siswa SDN 318 Maluku Tengah tetap semangat belajar meski harus di bilik darurat bekas kebakaran.

Siswa SDN 318 Malteng Terpaksa Belajar di Reruntuhan Bekas Kebakaran

Dua tahun pascakebakaran hebat, kondisi SDN 318 Maluku Tengah di Saparua masih memprihatinkan. Siswa beradaptasi dengan bilik darurat bekas kebakaran untuk melanjutkan pendidikan. Semangat juang dan gotong royong warga menunjukkan harapan besar terhadap masa depan pendidikan anak-anak, meskipun dihadapkan keterbatasan luar biasa.

Temukan informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Maluku di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Maluku Indonesia.

Perjuangan Swadaya Menyelamatkan Pendidikan

Setelah dilanda kebakaran dua tahun lalu, SDN 318 Maluku Tengah kini direhabilitasi secara swadaya berkat kegigihan pihak sekolah dan dukungan masyarakat. Upaya ini dilakukan agar proses belajar mengajar tetap dapat berlangsung, meskipun dengan segala keterbatasan yang ada. Lima bilik kelas darurat berhasil disiapkan dari sisa-sisa bangunan yang tidak terbakar.

Kepala Sekolah SDN 318, Anike Elsye Pattiasina, mengungkapkan bahwa rehabilitasi ini dimulai sejak Juni-Juli 2025. Dana awal untuk rehabilitasi terbatas, diambil dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, dana BOS tidak mencukupi karena perhitungan anggaran didasarkan pada jumlah siswa, yang relatif sedikit.

Keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat. Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Ketua Komite Sekolah untuk melibatkan peran serta orang tua siswa. Melalui gotong royong, para orang tua membantu menyediakan material bangunan seperti seng, kayu, dan paku, menunjukkan solidaritas yang luar biasa.

Ruang Belajar Terbatas, Semangat Tak Terbatas

Dengan hanya lima petak ruangan yang bisa digunakan, sebanyak 66 siswa SDN 318 Malteng harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran bergantian. Kelas satu dan kelas dua, misalnya, terpaksa berbagi ruangan. Kelas satu masuk pagi dari pukul 07.00 hingga 09.30 WIT, sedangkan kelas dua masuk siang dari pukul 10.00 hingga 14.00 WIT.

Kondisi ini memang jauh dari ideal, namun Anike Elsye Pattiasina menegaskan bahwa tanpa langkah rehabilitasi swadaya ini, aktivitas sekolah dan proses belajar siswa akan terhambat total. Keputusan ini diambil demi memastikan pendidikan anak-anak tidak terhenti, meskipun harus dalam kondisi darurat.

“Jujur beta sangat terharu melihat kondisi anak-anak, tapi mau bagaimana lagi, beta harus bertindak supaya proses belajar tetap berjalan,” ujar Kepala Sekolah Anike Elsye Pattiasina. Kalimat ini mencerminkan dedikasi dan keprihatinan mendalam terhadap kondisi para siswanya.

Baca Juga: Diduga Lakukan Pemerkosaan, Oknum Polisi di Maluku Jadi Sorotan

Kondisi Bangunan Dan Ancaman Bencana

 ​Kondisi Bangunan Dan Ancaman Bencana​​ ​

Selain bilik kelas darurat, Anike juga mengupayakan bantuan dari para alumni untuk merehabilitasi bagian bangunan sekolah yang masih utuh namun kondisinya sudah tidak layak. Bangunan yang tidak terbakar pun kini menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah, dengan dinding yang mengembang dan keropos.

Kekhawatiran terbesar Kepala Sekolah adalah potensi bahaya yang mengancam keselamatan siswa jika terjadi gempa. Kondisi bangunan yang rapuh menjadikannya rentan terhadap bencana alam. Ancaman ini menambah beban pikiran, mengingat Saparua berada di wilayah rawan gempa.

Oleh karena itu, upaya rehabilitasi secara mandiri ini merupakan langkah penting untuk memitigasi risiko. Namun, solusi jangka panjang berupa pembangunan gedung permanen yang kokoh sangat dibutuhkan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh warga sekolah.

Harapan Pada Pemerintah Untuk Gedung Permanen

Anike Elsye Pattiasina sangat berharap pemerintah dapat segera membangun gedung sekolah permanen yang layak bagi siswa SDN 318 Malteng. Ia mendesak agar pemerintah tidak menunda-nunda pembangunan dengan alasan menunggu Dana Alokasi Khusus (DAK) atau Dana Alokasi Umum (DAU) yang membutuhkan waktu.

Menurut Anike, ini adalah kasus sekolah bencana yang membutuhkan penanganan cepat. Koordinasi dengan Pemerintah Negeri setempat telah dilakukan, dan lahan untuk pembangunan pun sudah siap tanpa kendala. Artinya, tidak ada alasan teknis yang menghambat pembangunan gedung baru.

“Harapan beta, secepatnya dibangun supaya ruang belajar lebih layak dan proses belajar mengajar bisa lebih baik,” tutupnya. Pembangunan gedung permanen akan menjadi jawaban atas jeritan hati siswa dan guru, memastikan masa depan pendidikan yang lebih cerah bagi generasi penerus di Saparua.

Jangan lewatkan update berita seputaran Maluku Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari ambon.tribunnews.com
  • Gambar Kedua dari ambon.tribunnews.com