Ruas jalan vital di Leihitu terputus berlarut-larut, memaksa warga terpaksa melintas berbahaya setiap hari demi aktivitas harian mereka.
Infrastruktur jalan merupakan tulang punggung ekonomi dan mobilitas masyarakat. Namun di Jazirah Leihitu, Maluku, sebuah ruas jalan vital penghubung ribuan warga ke Kota Ambon kini terputus total. Kondisi ini bukan kejadian mendadak, melainkan akibat kerusakan yang lama dibiarkan tanpa penanganan serius, sehingga memicu kecaman berbagai pihak.
Temukan informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Maluku di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Maluku Indonesia.
Akses Vital Terputus, Jantung Mobilitas Terhenti
Ketua Perhimpunan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Jazirah Leihitu (HUA), Suherman Ura, mengecam lambannya respons pemerintah. Jalan provinsi di Dusun Kalauli, Desa Kaitetu, Leihitu, Maluku Tengah, tak dapat dilintasi sejak 22 Desember 2025 akibat kerusakan parah. Kondisi ini menimbulkan kesan pemerintah baru bertindak setelah kerusakan mencapai titik kritis.
Puncak kerusakan terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah Leihitu pada 28 November 2025. Badan jalan yang telah terkikis secara perlahan akhirnya ambruk sepenuhnya, memutus total akses yang sangat bergantung pada ruas jalan ini. Ribuan warga Jazirah Leihitu terisolasi, terpaksa mencari alternatif yang berbahaya demi mencapai Kota Ambon.
Suherman menegaskan, jalan ini adalah urat nadi masyarakat Leihitu. Ketika warga harus menantang maut melintasi jembatan darurat dari kayu, itu adalah bukti nyata absennya perhatian negara terhadap keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Situasi ini bukan hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga mempertaruhkan nyawa penduduk setempat.
Solusi Darurat Yang Gagal Dan Abai Negara
Upaya penanganan darurat memang sempat dilakukan, namun bukan oleh pemerintah. Warga setempat secara swadaya bergotong royong menempatkan batang-batang pohon sebagai penopang, berharap kendaraan masih bisa melintas. Tindakan heroik ini menunjukkan inisiatif dan kepedulian masyarakat di tengah kelalaian pihak berwenang.
Namun, solusi darurat seadanya tersebut tidak mampu menahan terjangan hujan lebat yang terus mengguyur. Pada Senin (22/12/2025) sekitar pukul 18.00 WIT, intensitas hujan yang tinggi semakin mengikis badan jalan, membuat patahan semakin meluas. Kayu-kayu penopang yang dipasang warga akhirnya tidak lagi berfungsi.
Kondisi semakin genting sekitar pukul 21.00 WIT, saat sebagian besar badan jalan kembali runtuh. Kapolsek Leihitu, Iptu M. Irwan Nismon Sifu, beserta empat personel langsung menuju lokasi setelah menerima laporan. Mereka mengonfirmasi bahwa jalan tersebut benar-benar hancur dan tidak bisa lagi dilalui, terutama oleh kendaraan.
Baca Juga: Gerbang Maluku Dikawal Ketat! Satgas Banops Ditpolairud Siap Hadang Kriminalitas Dan Penyelundupan
Polisi Turun Tangan, Prioritas Keselamatan Warga
Merespons kondisi yang membahayakan, aparat kepolisian segera mengambil langkah preventif. Demi menghindari risiko kecelakaan yang lebih fatal, akses jalan tersebut ditutup sementara untuk kendaraan bermotor. Keputusan ini diambil demi keselamatan warga yang terancam oleh kondisi jalan yang sangat tidak stabil.
Kapolsek Leihitu menjelaskan bahwa kondisi jalan sangat rapuh, diibaratkan seperti karet yang bergoyang. Oleh karena itu, bagi pejalan kaki masih diperbolehkan melintas dengan hati-hati, namun kendaraan sama sekali tidak diizinkan. Langkah ini penting untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan di tengah situasi darurat ini.
Penutupan akses ini secara tidak langsung menyoroti urgensi penanganan permanen dari pemerintah. Meskipun kepolisian telah mengambil tindakan cepat untuk mengamankan lokasi, permasalahan utama yakni perbaikan infrastruktur tetap berada di tangan pihak yang berwenang untuk segera ditindaklanjuti.
Tuntutan Mendesak, Kapan Pemerintah Bertindak?
Kecaman Suherman Ura menjadi cerminan kekecewaan kolektif masyarakat Leihitu terhadap lambannya respons pemerintah. Pertanyaan besar yang muncul adalah: mengapa perbaikan jalan yang merupakan akses vital ini harus menunggu hingga kerusakan mencapai ambang batas yang membahayakan? Ini bukan hanya soal perbaikan jalan, tetapi juga soal tanggung jawab negara.
Insiden ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah provinsi maupun daerah untuk memprioritaskan pemeliharaan infrastruktur, terutama di wilayah-wilayah yang sangat bergantung pada akses tersebut. Penanganan yang proaktif dan responsif akan mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan.
Diharapkan, setelah kecaman ini dan perhatian publik, pemerintah segera mengambil langkah konkret dan efektif untuk memperbaiki jalan yang putus di Leihitu. Keamanan, kelancaran mobilitas, dan kesejahteraan ribuan warga Jazirah Leihitu tidak bisa ditawar lagi. Mereka berhak mendapatkan akses jalan yang aman dan layak.
Jangan lewatkan update berita seputaran Maluku Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari ambon.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari ambon.tribunnews.com